Rabu, 23 Juli 2014

Politik Transaksi Budaya Bangsa Indonesia

Pemilu identik dengan uang, baik pemilu calon presiden, pemilu calon gubernur, pemilu calon bupati, pemilu calon legislatif, maupun pemilu calon kepala desa. Semuanya tidak terlepas dari yang namanya uang sebagai alat atau umpan untuk mendapat dukungan/suara dalam pelaksanaan pemilihan umum.

Fenomena yang masih hangat yaitu pemilu calon legislatif 9 April kemarin, hampir semua caleg menggunakan uang sebagai alat untuk mendapatkan suara dari masyarakat. Fenomena ini sering kita sebut sebagai politik transaksi atau “money politics”. Seperti yang diberitakan di KOMPAS.com seorang caleg berinisial MJ dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), untuk DPRD Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, meminta warga mengembalikan uangnya setelah mengetahui perolehan suara di Kapung Nelayan Mansapa hanya dua suara.

Peristiwa di Kampung Nelayan Mansapa merupakan salah satu dari kasus “money politics” yang dilakukan oleh calon anggota legislatif, belum lagi dari caleg-caleg lain yang tidak publikasikan di media massa. Jika di persentasikan, hampir 90% para caleg melakukan praktek “money politics”. Dan ternyata politik transaksi ini tidak hanya terjadi di pemilu 9 April kemarin, pemilu tahun-tahun sebelumnya juga terjadi demikian. Tidak menutup kemungkinan pemilu presiden dan wakil presiden mendatang pun akan terjadi hal yang serupa.

Hal tersebut secara tidak langsung mendeskripsikan kepada kita bahwa politik transaksi atau “money politics” merupakan budaya bangsa Indonesia. Diakuai atau tidak fenomena diatas adalah faktanya. Padahal dalam UU Pemilu sudah jelas mengenai larangan melakukan “money politics”.

“Barang siapa pada waktu diselenggarakannya pemilihan umum menurut undang-undang ini dengan pemberian atau janji menyuap seseorang, baik supaya orang itu tidak menjalankan haknya untuk memilih maupun supaya ia menjalankan haknya dengan cara tertentu, dipidana dengan hukuman penjara paling lama tiga tahun. Pidana itu dikenakan juga kepada pemilih yang menerima suap berupa pemberian atau janji berbuat sesuatu”, Pasal 73 ayat 3 UU Pemilu No. 3/1999.

Larangan melakukan “money politics” juga diatur dalam UU Pilkada tahun 2004, “setiap orang yang dengan sengaja memberi atau menjanjikan uang atau materi lainnya kepada seseorang supaya tidak menggunakan hak pilihnya, atau memilih pasangan calon tertentu, atau menggunakan hak pilihnya dengan cara tertentu sehingga surat suaranya tidak sah, diancam dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)”, UU Pilkada No. 32 Pasal 117 Tahun 2004.

Meskipun larangan melakukan praktik “money politics” sudah diatur dalam UU, sayangnya masih orang banyak yang melakukan hal tersebut. Ironisnya praktik “money politics” yang terjadi dilapangan, baik pelaku maupun penerima jarang diperkarakan. Panwaslu sebagai badan pengawasan pemilu, yang seharusnya mengawasi kecurangan-kecurangan dalam pemilu seolah menutup mata. Undang-undang yang seharusnya menjadi kitab suci Negara, seolah diabaikan begitu saja.

Hal ini membuktikan bahwa penegakan hukum di Indonesia masih rendah. Lalu siapa yang salah dan siapa yang harus disalahkan? Berbicara siapa yang salah, tentu siapapun tak ada yang mau disalahkan. Yang terbaik saat ini adalah mari introsfeksi diri, mari berbenah diri, agar politik transaksi tidak lagi menjadi budaya di Bangsa ini.


Cerpen

Mimpi Ratih

Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam Ratih masih bergelut dengan bolpoin dan kertas. Ya, begitulah aktivitas Ratih sebelum ia lekas menutup hari, menulis cerpen untuk dikirimkan ke media esok hari.
Ratih adalah seorang anak dari keluarga sederhana, bapaknya bekerja sebagai pedagang kaki lima di Jakarta sedangkan ibunya hanya sebatas ibu rumah tangga. Namun tekadnya untuk melanjutkan ke Perguruan Tinggi tidak pernah surut. Ratih memang mahir dalam menulis cerpen, namun ia bercita-cita ingin menjadi seorang guru bahasa Indonesia.

Waktu begitu cepat berlalu, tak terasa Ratih sudah lulus SMA. Ia bingung terhadap pilihan yang menyudutkannya, ia bimbang apakah akan melanjutkan sekolah atau bekerja untuk membantu ekonomi keluarga. Masing-masing pilihan itu ada konsekuensi yang harus ia terima. Jika ia melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi, mungkin ia bisa menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang guru bahasa Indonesia tapi siapa yang akan membiayai kuliahnya mengingaat pendapatan Bapaknya tak seberapa. Jika ia tidak melanjutkan sekolah lalu bekerja, mungkin ekonomi keluarga akan sedikit terbantu tapi cita-citanya untuk menjadi seorang guru bahasa Indonesia kemungkinan tidak akan pernah terlaksana.

Suatu malam, setelah ia selesai menulis sebuah cerpen ia menghampiri Ibunya yang sedang berbaring di tempat tidur. Ratih hedak menyampaikan keinginannya untuk melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Sayang ibunya tak mengizinkan begitu saja keinginan Ratih.

“Bu, Ratih mau bicara sesuatu pada Ibu!”, kata Ratih sambil menunduk.

“Bicara soal apa Nak, bicaralah!’’, jawab Ibunya.

“Aku kan sudah lulus bu, ijazah SMA juga sudah dibagikan. Aku ingin melanjutkan sekolah ke Perguruan Tinggi. Aku ingin jadi guru bahasa Indonesia syaratnya Aku harus kuliah bu”,  kata Ratih dengan penuh keraguan.

“Apa ibu tidak salah dengar? Uang dari mana Nak, kamu kan tahu sendiri biaya kuliah itu kan mahal, bisa mencapai puluhan juta. Sementara Bapakmu hanya sebatas  pedagang kaki lima di Jakarta, pulang setiap dua bulan sekali. Itupun penghasilannya tak seberapa”, jawab Ibunya dengan nada rendah.

“Tapi Aku ingin menjadi guru Bu, Aku ingin megangkat harkat dan martabat keluarga kita. Selama ini orang-orang menganggap rendah terhadap  keluarga kita, mungkin karna kita hanya keluarga sederhana yang tak punya apa-apa dan tidak berpendidikan. Maka dari itu, Aku ingin membuktikan pada mereka kalau kita juga berhak dihormati oleh sesama. Hanya dengan pendidikan nama baik keluarga akan terangkat bu!”, kata Ratih.

“Kamu benar Nak, tapi . . .” jawab Ibunya sambil terbata-bata.

“Tapi apa Bu??? Apalagi yang Ibu khawatirkan. Masalah biaya? Ibu tidak usah khawatir, Insya Allah aku bisa membiayai kuliahku dari hasil menulis cerpen. Lagipula cita-citaku ini kan mulia, Aku yakin Allah akan selalu memberi jalan pada hambaNya yang bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu!”, kata Ratih penuh keyakinan.

“Sudahlah, malam sudah larut Nak. Ibu tidak bisa memutuskan seorang diri, Ibu harus bicara dulu pada Bapakmu. Segala sesuatunya kan harus ada persetujuan Bapak dulu, sebab Bapak adalah kepala keluarga. Apalagi ini menyangkut masalah biaya, tentu Ibu tidak bisa memutuskan seorang diri. Kamu bersabarlah Nak, seminggu lagi Bapakmu pulang dari Jakarta. Sekarang tidurlah!”, kata Ibunya sambil menyuruh Ratih segera tidur.

Tanpa meninggalkan sepatah kata, Ratih bergegas keluar dari kamar Ibunya. Ia sedikit kecewa dengan tanggapan Ibunya yang tidak sesuai harapan. Awalnya Ratih mengira Ibunya akan menuruti keinginannya, ternyata haya kesenjangan yang ia terima.

 Kemudian Ratih masuk ke kamarnya, meski Ibunya menyarankan agar segera tidur namun Ratih malah menulis cerpen tentang kisah yang baru saja ia alami. Ratih memang peka terhadap apa saja yang ia lihat maupun yang ia rasakan, sehingga apa saja yang ia alami selalu dicurahkan pada sebuah tulisan, dirangkai menjadi sebuah cerita menarik untuk dibaca oleh semua orang.

Malam adalah waktu dimana kesedihan semakin menjelma, semilir angin yang menembus dinding menambah kesedihan yang dirasakan Ratih. Tak berapa lama Ratih tertidur di atas meja belajar, sementara tangannya masih memegang bolpoin.

Seminggu telah berlalu, ini adalah waktu yang di tunggu-tunggu oleh Ratih. Waktu dimana Ratih akan mengatakan keinginan kepada Bapaknya untuk melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi.

Sekitar pukul dua siang Bapaknya datang dengan membawa tas berisi pakaian. Ratih menyambut kedatangan Bapaknya dengan hati berbunga-bunga, ia segera menyiapkan teh hangat untuk Bapaknya yang baru saja turun dari sebuah angkot berwarna putih. Seperti biasa sebelum ganti pakaian Bapaknya selalu menceritakan segala sesuatu yang terjadi selama dua bulan ke belakang di Jakarta, sementara Ratih dan Ibunya menjadi penyimak setia.

Malam harinya, setelah sholat isya Ratih dipanggil oleh Bapaknya yang sedang duduk di beranda rumah bersama Ibunya.

“Ratih.. Ratih.. Ratih.. sini Nak!!!”, panggil Bapaknya.

“Iya Pak”, jawab Ratih.

“Nak, Bapak mau bicara sama kamu. Bapak dengar katanya kamu ingin kuliah, apa benar?” kata Bapaknya dengan nada pelan.

“Iya pak, Ratih ingin melanjutkan sekolah. Ratih ingin jadi guru bahasa Indonesia Pak”, jawab Ratih sambil duduk di samping Bapaknya.

“Apa kamu sudah mempertimbangkannya Nak? Kamu kan tahu sendiri, biaya kuliah itu mahal Nak. Jangankan kuliah yang biaya pendidikannya tidak ditanggung oleh pemerintah, sekolah di SMA saja yang katanya gratis masih ada pungutan-pungutan tak terduga. Jujur Bapak tidak sanggup membiayai kamu Nak, penghasilan Bapak saja belum tentu mencukupi kebutuhan sehari-hari apalagi jika ditambah biaya untuk kuliah. Bapak bukannya tidak sayang Nak, tapi ekonomi keluarga kita yang tidak memungkinkan!”, tegas Bapak.

“Semuanya sudah Ratih pertimbangkan masak-masak Pak, Ratih juga paham betul akan keadaan ekonomi keluarga kita. Bapak dan Ibu tidak usah memikirkan masalah biaya,  Ratih masih punya tabungan untuk biaya masuk kuliah. Untuk kedepannya Insya Allah Ratih bisa membiayai kuliah dari hasil menulis cerpen. Untuk saat ini Ratih hanya butuh restu dari Ibu dan Bapak, sebab ridho Allah adalah restu dari orang tua”, jawab Ratih.

“Apa kamu yakin Nak? Kalau memang seperti itu, baiklah Bapak dan Ibu mengizinkan. Asal kamu jangan memilih jurusan bahasa Indonesia”, kata Bapak dengan nada agak tinggi.

“Loh kenapa Pak, apa ada yang salah dengan jurusan bahasa Indonesia?”, sanggah Ratih.

“Dengarkan Bapak Nak, coba kamu perhatikan sarjana jurusan bahasa Indonesia yang ada di kampung kita. Mereka semuanya pada nganggur Nak, guru bahasa Indonesia sudah banyak sehingga persaingan semakin ketat dan sekolahpun sudah tidak membutuhkan lagi. Apa kamu mau seperti mereka? Lagipula bahasa Indonesia itu mudah Nak, tanpa dipelajaripun nanti bisa sendiri. Lebih baik kamu pilih jurusan lain yang lebih menantang dan prosfeknya bagus”, kata-kata Bapaknya semakin tinggi.

“Tidak Pak, tekad Ratih sudah bulat. Ratih akan tetap memilih jurusan bahasa Indonesia. Karena Ratih yakin selama bahasa Nasional kita adalah bahasa Indonesia maka sarjana jurusan bahasa Indonesia akan tetap dibutuhkan”, tegas Ratih.

“Ya sudah kalau itu memang keinginanmu, Bapak dan Ibu hanya bisa mendoakanmu Nak. Saran Bapak, jadilah mahasiswa yang berprestasi agar bisa membanggakan orang tua, hormati dosen-dosenmu sebab mereka adalah orang-orang yang akan mengantarkanmu dalam mewujudkan cita-cita”, saran Bapaknya sambil memeluk Ratih penuh kasih sayang.

Setelah percakapan itu Ratih jadi semakin giat belajar untuk menghadapi tes seleksi mahasiswa baru. Ia juga tetap menulis cerpen untuk dikirimkan ke media masa, uang dari hasil menulis cerpen ia tabungkan. Sebagian sudah ia gunakan untuk biaya masuk kuliah.

Setelah ujian masuk dilaksanakan, tiga hari kemudian pengumuman penerimaan mahasiswa baru dipajang di papan informasi kampus. Pengumuman itu hanya berisi daftar nama yang lulus seleksi, nama peserta yang tidak lulus tidak dicantukan. Ratih segera menuju kampus, dengan harap-harap cemas ia baca satu persatu nama yang tercantum di papan informasi. Sayang tidak ada nama Ratih pada pengumuman tersebut. Itu artinya ia tidak lulus seleksi, maka ia harus mengikuti tes lagi pada tahun yang akan datang.

 Betapa terpukulnya perasaan Ratih pada saat itu. Ratih pulang dengan membawa kekecewaan, ia tidak menyangka akan semua ini. Bahkan ia hampir putus asa tidak ingin menggapai cita-citanya yang selama ini ia gantungkan.

Sesampainya di rumah, Ibunya melihat wajah Ratih tak seperti biasanya. Anak yang ia kenal sebagai anak yang ceria, mandiri, dan penuh percaya diri, kini tampak seperti langit mendung. Kemudian Ibunya menghampiri dan menanyakan apa yang sudah terjadi pada Ratih.

“Kamu kenapa Nak, bagaimana kamu diterima tidak?”, tanya Ibunya.

“Tidak apa-apa ko Bu”, jawab Ratih.

“Kalau tidak apa-apa, kenapa wajahmu murung? Kamu tidak bisa berbohong pada Ibu! Apa yang sudah terjadi sehingga kamu murung seperti ini? Lalu bagaimana pengumuman hasil tes masuk, kamu diterima kan?”, tanya Ibunya penuh penasaran.

“Aku tidak diterima Bu”, jawab Ratih sambil menangis.

Mendengar jabawan itu, Ibunya langsung memeluk Ratih. Mencoba menenangkan serta memberi motivasi pada Ratih, agar ia tidak putus harapan. Selang beberapa menit, terdengar bunyi klakson mobil yang diparkir dipekarangan rumah Ratih. Mendengar bunyi tersebut seketika membuat Ibunya kaget, lantas keluar untuk melihat siapa yang datang. Ketika Ibunya hendak membukakan pintu, ternyata sudah ada dua orang yang berdiri di depan pintu.

“Permisi Bu, apa benar ini rumahnya Ratih Fitriany?”, tanya salah seorang tamu.

“Iya benar, ada perlu apa ya Pak?”, jawab Ibunya penuh tanda tanya.

“Kami dari Universitas Pendidikan Indonesia mau mengantarkan surat ini untuk Ratih. Kemudian kami juga mau mengklarifikasi terkait pengumuman hasil tes masuk yang dipajang di papan informasi, setelah dicek ulang ternyata ada kesalahan dalam menginfut data. Sodari Ratih Fitriany ternyata diterima di Universitas kami, untuk lebih jelasnya silahkan nanti Ibu baca saja isi surat ini”, tambah tamu tersebut.

“Alhamdulillah, terima kasih banyak Pak”, ucap Ibu penuh haru.

“Iya sama-sama Bu. Kalau begitu kami permisi”, kata kedua tamu.

Setelah tamu pergi, Ibunya langsung masuk ke dalam rumah dan menyerahkan surat itu kepada Ratih. Ibunya segera menyuruh Ratih untuk membuka surat itu, setelah dibuka ternyata isinya adalah pengumuman hasil tes masuk yang mendapat nilai terbaik. Isi surat itu mengatakan bahwa sodari Ratih Fitriany lulus dengan nilai paling besar. Atas prestasi tersebut Ratih mendapat penghargaan berupa biasiswa pendidikan gratis sampai S-2 di Universitas Pendidikan Indonesia.

Sabtu, 31 Mei 2014

Cerpen



                                                      KAOS KAKI BOLONG

Hidup ini kadang tak adil. Bagi orang kaya tertawa adalah sebuah kenikmatan yang tak terkira, sementara bagi orang tak punya jangankan untuk tertawa, untuk tersenyum saja harus menutupi dera dan derita. Namun begitulah romantika kehidupan di dunia fana, suka tidak suka harus diterima dengan ikhlas dan lapang dada. Sesungguhnya miskin dan kaya tak ada beda, tergantung bagaimana menjalaninya. Begitupun dengan kemiskinan yang kualami, sebelum kupahami tentang makna “kemiskinan” Aku sering menghakimi Tuhan atas dasar ketidakadilan. Ternyata Aku salah besar. Kini kemiskinan telah menyadarkanku batapa nikmatnya penderitaan jika dijalani dengan penuh keikhlasan. Ya, hidup sebagai orang miskin memang harus dijalani dengan penuh keikhlasan.

Almarhum Bapakku pernah mengatakan “Hidup sebagai orang miskin seperti kita harus dijalani apa adanya.” Begitulah tadasnya. Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Bapak sebelum beliau meninggalkanku untuk selama-lamanya. Mungkin itu merupakan amanat yang harus Aku pahami sebagai anak paling tua di keluargaku. Aku tak pernah menyangka Bapak akan secepat itu meninggalkanku, Ibu, serta kedua adikku yang masih kecil.

Setelah Bapak meninggal Ibulah yang menjadi tulang punggung keluarga, meneruskan pekerjaan ayah sebagai tukang becak. Kadang aku tak tega melihat Ibu harus bangun di pagi buta, lalu pergi dan berkumpul pertigaan jalan bersama tukang becak lainnya. Tapi apalah daya, Aku hanya bisa menahan air mata melihat keadaan yang ada. Aku belum bisa menjadi tulang punggung pengganti Bapak mengingat usiaku belum dewasa. Maka terpaksa Ibu harus bekerja menjadi tukang becak demi menghidupi anak-anaknya, walaupun pekerjaan ini  tak lazim dilakukan oleh seorang wanita.

Dengan kemiskinan yang kualami saat ini, Aku selalu belajar menjadi orang yang ikhlas dan tabah dalam menjalani kehidupan. Aku adalah seorang siswa kelas V Sekolah Dasar. Namaku Arif Rahman, teman di sekolah biasa memanggilku dengan panggilan Arif. Sekolahku terletak di ujung desa sehingga Aku harus menempuh perjalanan sekitar 2 KM dari tempat tinggal. Perjalanan dari rumah ke sekolah menghabiskan waktu selama satu jam, jika sekolah masuk pada pukul 07.30 WIB maka pukul 05.30 Aku harus berangkat.

Meski hidupku dipenuhi dengan segala kekurangan, tapi cita-citaku tak pernah padam. Cita-cita terbesarku ingin menjadi seorang guru, akan tetapi ada cita-cita lain yang terlebih dulu ingin kugapai yakni membeli kaos kaki baru, mengingat kaos kaki yang setiap hari kupakai ke sekolah sudah bolong. Mungkin bagi anak orang kaya untuk membeli kaos kaki baru bisa meminta kepada orang tuanya bahkan tanpa dipintapun orang mereka akan dibelikan, tapi bagi orang miskin sepertiku jangankan untuk meminta kepada orang tua, untuk makan sehari-hari saja kadang ibu minta nasi kepada tetangga.

Suatu hari Aku pernah diejek teman-teman sekelasku saat Aku hendak memasuki ruang guru, dimana ruang guru dan kelasku saling berhadapan. Saat itu Aku hendak mengantarkan kaca mata Pak Agung yang tertinggal di dalam kelas. Sebagaimana aturan yang ditetapkan oleh pihak sekolah bahwa siapapun yang akan masuk ke ruang harus melepas sepatu. Aturan tersebut belaku untuk semua pihak, baik bagi guru maupun bagi siswa. Setelah Aku membuka sepatu dan hendak masuk ke ruang guru, Adit dan Didin menghampiriku dengan tatapan sinis. Mereka adalah teman sekelasku yang suka jail.

“Hey Anak tukang becak, mau ngapain kamu masuk ke ruang guru?”, tanya Adit.
“Kamu tidak layak masuk ke ruang guru, soalnya kamu anak tukang becak”, kata Didin.

Aku tak menghiraukan perkataan kedua temanku itu, ketika aku melangkah tiba-tiba Adit menarik kerah bajuku dari belakang sehingga aku terjatuh dan kaki kiriku terkilir. Ketika aku hendak bangun, Aku merasakan kesakitan yang tak terhingga dibagian pergelangan kaki. Adit dan Didin tertawa melihat aku kesakitan, ia malah mengejek ketika melihat sepasang kaos kakiku bolong di bagian jempol.

“Hey Anak tukang becak, lihatlah kaos kakimu bolong. Masa kaos kaki bolong masih dipakai? Atau jangan-jangan itu kaos kaki bekas ibumu narik becak ya?”, ejek Didin.

Tak lama kemudian teman-teman sekelas berkumpul mengelilingiku, tiba-tiba mereka pun ikut menertawakan dan mengejekku seperti Adit dan Didin. Sementara aku hanya bisa menangis dan menahan rasa malu atas ejekan tersebut. Peristiwa itu serentak mengundang perhatian guru-guru yang berada di ruang guru. Melihat Pak Agung menghampiriku yang sedang menangis kesakitan, teman-teman sekelasku semuanya lari karena takut dimarahi.

“Kamu kenapa menangis Rif?”, tanya Pak Agung.
“Saya mau mengantarkan kaca mata Bapak yang tertinggal di kelas, ketika saya mau menemui Bapak, Adit menarik saya dari belakang lalu saya jatuh pak. Ini kaca mata Bapak”, jawabku sambil menyodorkan kaca mata.
“Terima kasih Rif, tapi kamu tidak apa-apa kan?”, tanya Pak Agung.
“Kaki saya terkilir pak, tapi saya masih bisa berjalan ko Pak”, jawabku sambil menahan sakit. Kalau begitu saya permisi ke kelas lagi Pak.
“Syukurlah kalau begitu. Ya sudah kamu jangan menangis lagi Rif!” Jawab Pak Agung.
“Iya Pak”, jawabku sambil berjalan meninggalkan Pak Agung.

Setelah bel pulang berbunyi, aku langsung pulang ke rumah. Seperti biasa aku langsung ganti pakaian, membersihkan rumah dan menjaga adik-adikku yang ditinggal Ibu bekerja. Ketika Aku sedang sekolah Ibu biasa menitipkan adik-adikku kepada tetangga samping rumah, sementara jika Aku selesai sekolah maka Akulah yang menjaganya.

Senja telah di upuk barat, matahari kian redup tapi Ibu belum juga pulang. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu pada Ibu. Tapi tak lama kemudian Ibu pulang, wajahnya tampak lelah dan dipenuhi debu jalanan. Tapi Ibu selalu berusaha menutupi apa yang dirasakannya, walaupun Aku tahu apa yang Ibu rasakan sesungguhnya. Tanpa banyak bicara, Ibu langsung pergi ke dapur menyiapkan makan untuk keluarga. Selesai makan Aku menceritakan kejadian yang ku alami di sekolah, aku berniat ingin berhenti sekolah karena aku sering diejek teman-teman sekelas karena sepasang kaos kakiku bolong.

“Bu, Arif tidak mau sekolah lagi. Arif mau berhenti sekolah saja”, kataku.
“Loh, kenapa Nak?” tanya Ibu.
“Arif malu Bu, tadi siang Arif diejek teman-teman sekolah gara-gara kaos kaki Arif bolong. Di kelas juga Arif sering diejek karena Ibu bekerja sebagai tukang becak, Arif mau bekerja saja”. Jawabku.
“Nak, kalau kamu tidak sekolah kamu mau jadi apa? Lagipula usia kamu masih kanak-kanak, kamu bisa kerja apa?” tanya Ibu
“Kalau begitu Arif mau jaga adik-adik saja di rumah” jawabku sambil menundukan kepala.
“Nak, dengarkan Ibu! Walaupun kamu terlahir dari keluarga tak punya, Ibu ingin anak-anak Ibu mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Ibu ingin kalian punya cita-cita, agar ketika Ibu tua nanti kalian bisa menjadi anak kebanggaan keluarga, bangsa dan negara. Ibu yakin, Tuhan akan selalu memberi jalan bagi hambanya yang sungguh-sungguh menuntut ilmu. Masa gara-gara kaos kaki bolong saja kamu jadi minder dan patah semangat? Apa kamu lupa amanat almarhum Bapak? Ingatlah Nak, hidup menjadi orang miskin seperti kita harus dijalani apa adanya! Jadikan ejekan teman-temanmu sebagai motivasi dalam diri untuk menjadi siswa berprestas!’’

Kata-kata Ibu seolah membakar semangatku, membangkitkan semangat baru untuk terus menuntut ilmu. Tak lama kemudian Ibu kembali berbicara.

“Satu lagi yang harus kamu tanamkan dalam hati. Pekerjaan apapun dimata Tuhan adalah sama Nak, baik itu bekerja sebagai TNI, polisi, dosen, guru, karyawan, pedagang, petani, tukang ojek, bahkan tukang becak di mata Tuhan itu semua sama Nak. Yang membedakan adalah bagaimana cara mendapatkan uangnya, apakah dengan cara halal atau dengan cara haram. Jadi kalau ada lagi teman yang mengejekmu mengenai pekerjaan Ibu, kamu tidak perlu malu karena uang yang Ibu terima didapat dengan cara yang halal”, pungkas Ibu sambil menyuruhku belajar dan menyiapkan buku pelajaran untuk esok hari.

Ibuku memang luar bisa, beliau pandai bermain kata-kata yang bisa membangkitkan semangat anak-anaknya. Sejak saat itu Aku jadi lebih giat belajar meski dengan segala keterbatasan. Aku menjadi lebih ikhlas menerima keadaan, dari keikhlasan itulah melahirkan sebuah prisip yang Aku pegang, bahwa tak ada batasan bagi seseorang untuk menggapai impian walaupun hidup dalam segala keterbatasan. Maka saat itu juga prestasiku semakin meningkat, terbukti dari rangkingku yang sebelumnya hanya masuk sepuluh besar sekarang meningkat menjadi tiga besar.

Waktu terasa begitu cepat berputar, kini aku sudah duduk di kelas enam. Rasanya baru kemarin aku didaftarkan oleh Ibu ke Sekolah Dasar kini aku sudah kelas enam, dimana sebentar lagi Aku akan menghadapi saat-saat yang menegangkan yakni Ujian Nasional. Sebab, Ujian Nasionallah yang akan menentukan nasibku selama enam tahun belajar di Sekolah Dasar.

Ujian Nasional tinggal menghitung hari, semua guru mengingatkan agar semua siswa harus lebih giat belajar. Bahkan beberapa temanku sudah dibelikan sepatu dan kaos kaki baru untuk dipakai ketika ujian, sementara Aku tetap memakai kaos kaki bolong milikku satu-satunya. Aku tetap memakai kaos kaki bolong bukan berarti Ibu tak memperdulikanku, akan tetapi karena keterbatasan keluargaku yang tidak memungkinkan Ibu untuk membelikanku kaos kaki baru. Suatu hari ketika Aku dan teman-teman sedang mengikuti pelajaran tambahan, Kepala Sekolah menyampaikan pengumuman di depan kelas.

“Anak-anak, Bapak akan menyampaikan kabar gembira. Bagi siswa yang lulus ujian dengan nilai paling besar Bapak akan memberi penghargaan berupa piala dan uang. Maka dari itu tingkatkan porsi belajar kalian, silahkan besaing secara sehat!” kata Kepala Sekolah.

Mendengar pengumuman tersebut seolah memberi angin segar bagiku, Aku sempat membayangkan jika Aku yang mendapat penghargaan tersebut tentu akan kubelikan kaos kaki baru yang selama ini Aku impikan. Walaupun masa sekolahku tinggal beberapa bulan, setidaknya kaos kaki baru itu bisa kupakai ketika perpisahan.

Hari pertama Ujian Nasional telah tiba, hari pertama kulalui tanpa kendala. Meskipun Aku tetap memakai kaos kaki bolong, tapi tak mengurangi konsentrasiku pada soal-soal yang harus kujawab. Begitupun hari kedua, tak ada kendala dalam menjawab soal-soal yang diberikan. Bagiku Ujian Nasional tak ada bedanya dengan ulangan harian ataupun ujian kenaikan kelas, mungkin karena persiapanku sudah matang sebelumnya. Namun hari terakhir Ibuku mendadak sakit parah, tidak mungkin Aku berangkat ke sekolah untuk mengikuti ujian mengingat Ibu dalam keadaan sakit.

Aku sempat berpikir, jika Aku tidak mengikuti ujian hari terakhir maka sudah dapat diprediksi Aku tidak akan lulus Sekolah Dasar. Tapi disisi lain, Ibu sangat membutuhkanku saat ini.

“Nak, kamu berangkat saja ke sekolah!”, kata Ibu sambil terbata-bata.
“Tidak bu, Arif mau di sini saja menunggu Ibu. Arif tidak tega meninggalkan Ibu dalam keadaan sakit seperti ini”, jawabku.
“Ini kan ujian hari terakhir Nak, nanti kamu tidak akan lulus. Perjuangan kamu selama enam tahun akan sia-sia Nak!” tegas Ibu.
“Ibu tidak usah khawatir, Arif tidak lulus juga tidak apa-apa Bu. Kesehatan Ibu lebih penting dari segalanya, lagipula tidak ada yang sia-sia Bu. Arif pernah dikasih tau oleh guru ngaji Arif di langgar, bahwa Ujian Nasional tidak bisa dijadikan tolak ukur kemampuan siswa, dan lembar ijazah yang dibagikanpun tidak bisa dijadikan patokan bahwa siswa tersebut pintar atau bodoh. Ibu tenang saja ya, Arif akan menunggu Ibu di sini sampai sembuh”, jawabku sambil memegang kedua tangan Ibu yang sedang terbaring lemah.
Tak lama kemudian Kepala Sekolah menjemputku rumah bersama Pak Agung dengan mengendarai motor tuanya. Beliau seolah tau kalau Ibu sedang sakit. Setelah menemui Ibu, Kepala Sekolah langsung mengajakku ke sekolah untuk mengikuti ujian.
“Arif ayo kamu ikut Bapak ke sekolah, ujian ini menentukan kelulusanmu!” Ajak Kepala Sekolah.
“Tapi Ibu sedang sakit pak”, jawabku.
“Ibumu nanti biar Pak Agung yang menjaganya, sekarang Arif ikut Bapak ke sekolah. Nanti selesai ujian Bapak antarkan lagi kesini”, lanjut Kepala Sekolah.
“Baiklah kalau begitu Pak”, jawabku.

Mendengar perkataan Kepala Sekolah, Aku bergegas memakai seragam seragam sekolah lengkap dengan dasi dan topi, serta kaos kaki bolong yang selalu ku pakai setiap pergi ke sekolah.

Sesampainya di sekolah Aku sudah terlambat, waktu yang tersisa tinggal 30 menit. Aku tak menghiraukan sisa waktu tersebut, yang terpenting adalah menjawab soal semampuku.

30 Menit telah berlalu. Guru pengawas memberi kode bahwa waktu ujian telah selesai, meskipun sisa waktu yang kumiliki hanya 30 menit, Aku mampu menjawab semua soal dengan baik. Setelah aku mengumpulkan lembar soal dan lembar jawaban, Kepala Sekolah langsung mengantarkanku kembali ke rumah.

Sesampainya di rumah, Kepala Sekolah langsung kembali ke sekolah dengan memboncengan Pak agung yang sebelumnya di peritahkan untuk menunggu Ibu di rumah selama Aku melaksanakan ujian. Aku langsung menemui Ibu yang sedang sakit, ketika Aku masuk ke kamar Ibu, ternyata Ibu sudah bisa duduk sendiri. Melihat hal itu, Aku sangat senang karena itu tandanya Ibu sudah sembuh.

Pengumuman kelulusan sudah tiba, semua siswa kelas enam berkumpul di halaman sekolah. Kepala Sekolah mengumumkan bahwa semua siswa lulus 100%, adapun siswa yang lulus mendapat nilai paling besar yaitu temanku yang bernama Anida Fitriani. Maka otomatis penghargaan berupa piagam dan uang yang Aku dambakan jatuh pada temanku. Padahal nilai Anida hanya beda tipis dengan nilai perolehanku, tapi karena Anida lebih unggul maka dialah yang lebih berhak mendapat penghargaan.

Betapa terpukulnya hatiku saat mendengar hal tersebut, karena rencanaku untuk membeli kaos kaki baru dari uang penghargaan tidak jadi. Akan tetapi Pak Agung selaku wali kelas memberikan penghargaan berupa bingkisan kepada siswa yang nilainya masuk tiga besar. Ketika Aku buka bingkisan tersebut ternyata isinya sepatu dan kaos kaki baru. Betapa senangnya melihat hal tersebut, kini Aku memiliki kaos kaki baru yang selama ini Aku impikan, selain itu Aku juga punya sepatu baru yang akan ku pakai ketika hari perpisahan tiba meskipun sepatu dan kaos kaki tersebut tak sebagus milik teman-temanku yang dibelikan orang tuanya. Tapi Aku akan lebih bangga ketika memakainya, sebab sepatu dan kaos kaki yang akan kupakai merupakan suatu penghargaan yang diberikan wali kelas atas prestasiku.

Rabu, 19 Maret 2014

Pendidikan Kewirausahaan

Lima Rencana Usaha

Menjadi seorang guru adalah cita-cita saya sejak kecil, sekarang status saya adalah seorang mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, dimana orientasinya adalah menjadi seorang guru Bahasa Indonesia baik di SMP maupun di SMA. Namun tak ada jaminan bagi saya untuk bisa menjadi seorang guru Bahasa Indonesia, meskipun niat sungguh-sungguh, rajin belajar, dan berdoa setiap saat tapi jika Allah belum meridhoi saya menjadi seorang guru tentu tidak akan pernah terwujud. Pada dasarnya tergantung pada kehendak yang Mahakuasa.
Maka dari itu, seandainya setelah lulus kuliah nanti Allah belum menghendaki saya untuk menjadi seorang guru, saya mempunyai rencana berwirausaha untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang telah saya dapatkan di bangku perkuliahan, khususnya dari mata kuliah Kewirausahaan.
Rencana usaha yang akan saya lakukan diantaranya adalah sebagai berikut:
1.        Membuka Usaha Fotokopi
Alasan mengapa saya mempunyai rencana membuka usaha fotokopi yaitu karena saya pikir keuntungan dari usaha fotokopi lumayan besar, meskipun modal yang harus dikeluarkan juga besar. Selain fotokopi, tentu saya juga akan menyediakan berbagai jenis peralatan kantor dan peralatan sekolah seperti buku tulis, alat tulis, penghapus, dan lain-lain untuk menambah keuntungan.
Saya berencana akan membuka usaha ini dengan mengontrak bangunan yang berada di belakang kampus II Universitas Kuningan, kebetulan ada bangunan kosong yang akan dikontrakkan. Sebab, jika saya membangun ruko tentu akan membutuhkan modalnya yang sangat besar.
Mengenai biaya yang harus saya siapkan (modal), saya perkirakan membutuhkan modal sebesar Rp. 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah). Saya rasa dengan modal sebesar itu cukup, untuk sementara saya akan membeli mesin fotokopi satu saja dulu. Sebab harga satu unit mesin fotokopi bisa mencapai 25 juta, selebihnya akan saya gunakan untuk modal yang lain.

2.      Membuka Usaha Toko Buku
Alasan saya mempunyai rencana ingin membuka usaha toko buku, yaitu karena di Kabupaten Kuningan toko buku yang menyediakan buku-buku yang dibutuhkan oleh mahasiswa hanya ada dua toko, yakni toko buku Gehena dan toko buku Samudra. Kadangkala mahasiswa kesulitan mencari buku referensi apabila tidak ada di dua toko buku tersebut, jika harus membeli ke Cirebon atau ke Senen (jakarta) para mahasiswa seringkali mengeluh karena jaraknya terlalu jauh.
Saya berencana akan membuka mengontrak bangunan yang ada di depan gerbang kampus I Universitas Kuningan. Saya pikir itu merupakan tempat yang sangat strategis, sebab sasaran utama saya adalah mahasiswa.
Biaya atau modal yang saya perlukan untuk membuka usaha ini kurang lebih Rp. 20.000.00,- (dua puluh juta rupiah). Untuk sementara, saya akan menyediakan buku-buku yang sering dibutuhkan oleh semua mahasiswa. Kedepannya jika sudah ada kemajuan, saya akan menambah modal untuk melengkapi buku-buku yang lain agar lebih kumplit.

3.      Membuka Usaha Warung Rokok di Jabotabek
Alasan saya mempunyai rencana ingin membuka usaha warung rokok di Jabotabek, yaitu karena saya perhatikan mayoritas penduduk di kampung saya berwirausaha sebagai pedagang rokok. Tentunya bukan pedagang rokok asongan seperti di kendaraan umum tapi pedagang rokok di sebuah kios. Sebenarnya tidak hanya jenis rokok saja yang dijual, namun identiknya sebagai pedagang rokok.
Menurut survei yang pernah saya lakukan, ternyata penghasilan yang diperoleh  dari usaha ini melebihi gaji pegawai negeri. Inilah yang memotivasi saya ingin membuka usaha warung rokok.
Saya perkirakan untuk mengawali usaha ini membutuhkan modal sebesar Rp. 40.000.000,- (empat puluh juta rupiah). Saya akan mengontrak sebuah bangunan yang dianggap ramai oleh para pembeli, misalnya di stasiun, terminal, rumah sakit, halte bus dan sebagainya.

4.      Membuka Usaha Tempat Bermain Futsal
Alasan saya mempunyai rencana ingin membuka usaha tempat bermain futsal yaitu karena saya pikir keuntungannya sangat besar. Saya salah satu orang yang hobi bermain futsal, banyak tau tentang biaya yang harus dibayar oleh tim yang bermain. Satu jam bermain biasanya di patok dengan tarif antara Rp. 100.00,- sampai Rp.120.000,- tergantung di tempat mana bermain, sebab setiap tempat berbeda tarifnya.
Modal yang saya butuhkan untuk membuka usaha ini sekitar Rp. 200.000.000,- (dua ratus  puluh juta rupiah), tentunya jumlah yang sangat besar bagi orang seperti saya. Namun jika usaha ini berjalan lancar, dalam jangka waktu setengah tahun modal yang sangat besar tersebut akan tertutupi. Jika dikalkulasikan, misalnya dalam satu hari ada yang bermain 15 jam ( dari pukul 09.00 s.d. 23.00), tarif satu jamnya Rp. 100.000,- maka keuntungan dalam satu hari bisa mencapai Rp. 1.500.000,- kemudian dikalikan selama tiga puluh hari, maka keuntungan yang diperoleh bisa mencapai Rp. 45.000.000,-

5.      Membuka Usaha Jasa Pengetikan dan Warnet
Alasan saya mempunyai rencana ingin membuka usaha jasa pengetikan dan warnet, yaitu karena dengan usaha ini selain bisa mendapat keuntungan berupa materil, di sisi lain juga dapat melatih dalam hal keterampilan menulis. Selain itu, bisa mengetahui berbagai informasi terbaru sebab setiap hari berhadapan dengan komputer (internet).
Lokasi yang akan saya pertimbangkan tentu disesesuaikan dengan kebutuhan konsumen, misalnya di lokasi yang dekat dengan sekolah, baik SD, SMP, maupun SMA. Sebab, di Kabupaten Kuningan masih banyak sekolah yang belum mempasilitasi siswanya dengan jaringan Hotspot/Wifi.
Modal yang saya butuhkan untuk membuka usaha ini sekitar Rp. 15.000.000,- (lima belas juta rupiah), modal tersebut akan saya gunakan untuk membeli lima unit komputer untuk warnet, satu unit komputer untuk server, dua mesin pencetak (printer), dan sisanya untuk mengontrak bangunan.

Itulah lima planning saya kedepan seandainya cita-cita saya (menjadi seorang guru) belum terwujud, saya sangat menyadari bahwa dari lima rencana usaha yang saya imajinasikan terlalu jauh. Mengingat modal yang harus saya siapkan jauh dari batas kemampuan saya sebagai anak yang terlahir dari keluarga sederhana, namun saya pikir tidak ada salahnya jika saya ‘memimpikan’ sesuatu yang bersifat logis.
Sebagai seorang manusia, saya hanya bisa berencana, berusaha, dan berdoa, terlaksana atau tidak, yang menentukan adalah yang Mahakuasa. Bahkan Andrea Hirata pernah berkata dalam novelnya “Bermimpilah maka Tuhan akan memeluk mimpi kita!!”